BELUM LIMA MENIT? DIBUANG ATAU DISAYANG?



 Hasil gambar untuk gambar makanan jatuh                   Awal mulanya muncul istilah “sayang, belum lima menit” adalah saat anak kos di tanggal tua. Ketika mereka berada di penghujung bulan dan tranferan belum kunjung di terima. Hingga akhirnya mereka memutar cara bagaimana caranya agar dengan sisa uang yang mereka miliki bisa bertahan hingga bala bantuan datang. Tak berhenti sampai disitu saja, ketika sedang menikmati makanan dengan uang terakhir yang ada di dompet, tiba-tiba makanan itu jatuh ke lantai, “ambil ah, mumpung belum lima menit.” Itulah kira-kira awal mula terciptanya semboyan “belum lima menit.” Sedikit intermezo dari asal-asul “belum lima menit” ala anak kos.
            Sebagian besar masyarakat Indonesia pasti sudah akrab dengan prinsip “mumpung belum lima menit, masih boleh dimakan”. Mitos “belum lima menit” ini berpendapat bahwa jika sepotong makanan hanya menghabiskan waktu beberapa detik di lantai, kotoran dan kuman tidak memiliki cukup waktu untuk mencemari makanan tersebut.
            Jadi, apakah boleh makan makanan yang sudah terlanjur jatuh dan belum lima menit?
            Tak hanya di Indonesia, beberapa warga negara lain pun memiliki anggapan yang sama tentang makanan yang jatuh dan belum lima menit. Mereka beranggapan bahwa makanan tersebut masih layak untuk dikonsumsi dan tidak berakibat fatal untuk kesehatan mereka.
            Nyatanya, makanan yang telah jatuh di lantai sebaiknya dibuang saja, karena kita tidak pernah tahu microbakteri apa saja yang ada di lantai tersebut.     
Walaupun makanan yang jatuh ke lantai berjenis makanan kering dan makanan basah serta "belum 5 detik" maupun lebih dari 5 detik, sebaiknya hindari dimakan.
"Karena makanan yang sudah jatuh ke lantai itu sudah terkontaminasi bakteri," tutup Heryudarini.
Menurut William, makanan yang telah jatuh ke lantai itu telah tertempel dengan kuman dan bakteri yang ada di lantai tersebut. William pun mempertimbangkan tentang tipe makanan yang jatuh ke lantai, apakah masih layak untuk dikonsumsi atau di buang saja. Disini William mengelompokkan makanan menjadi dua bagian; makanan basah dan makanan kering. Ia menjelaskan bahwa bakteri lebih berkembang dengan cepat ketika berada di tempat yang lembab, oleh karena itu makanan basah yang jatuh sebaiknya untuk tidak diambil lagi. Karena bakteri akan dengan mudah berkembang di dalam makanan basah. Sebaliknya, bakteri akan susah berkembang di dalam makanan kering. Eits, tapi jangan mengira makanan kering yang jatuh masih bisa di makan ya. Peneliti menguji menggunakan jenis makanan yang berbeda pada permukaan di lantai yang mengandung 10 juta bakteri, termasuk karpet, linoleum (bahan pelapis lantai), dan ubin. Makanan kering seperti biskuit, cokelat, keripik, dan sandwich dapat dimakan dari lantai setelah jatuh dalam waktu 30 menit. Di ubin terbilang sedikit perpindahan risiko kuman. Ketika makanan yang basah seperti pasta, kentang goreng, donat, atau roti panggang yang jatuh "belum lima detik" dapat membuat bakteri berpindah lebih cepat dari lantai. Apalagi sampai di tunggu lima menit. 

by: Yuniar Kartika Dwi Bagtya 


Komentar