Ada sebuah iklan
yang selalu terngiang di dalam benak kita “apapun makanannya, minumannya tetap
Teh Botol S*sro.” Ngaku aja, pasti kalian bacanya sambil pake nada deh, hehehe.
Iklan legendaris yang sering tayang di layar TV kita beberapa tahun terakhir
ini yang sering menghipnotis kita untuk ikutan bernyanyi ketika iklan itu
tayang.
Teh memang punya
sejuta manfaat bagi tubuh kita, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
saat mengonsumsi teh. Salah satunya adalah waktu yang tepat untuk mengonsumsi
teh tersebut.
Memang
sangat nikmat ketika setelah makan langsung mengonsumsi es teh, ditambah dengan
cuaca yang sangat panas dan setelah beraktivitas lapangan seharian. Menyeruput
minuman seperti teh, kopi,
dan susu tak bisa lepas dari
kehidupan sehari-hari. Tak sekadar dinikmati di waktu senggang, minuman
hangat itu juga bisa jadi menu penutup setelah makan besar.
Diantara tiga
minuman itu, salah satu yang sering dikonsumsi setelah menyantap makanan utama adalah teh.
Bisa berupa teh manis, teh tawar atau es teh.
Tapi ada
kabar kurang menyenangkan soal kebiasaan ini. Ternyata kebiasaan minum teh
setelah makan ini harus segera ditinggalkan. Apa alasannya?
Akhir-akhir ini ada sebuah
penelitian yang mengatakan bahwa minum teh setelah makan adalah sesuatu yang
berbahaya bagi tubuh kita. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The Journal
of Nutritional Biochemistry menemukan bahwa kandungan asam tannin dan polifenol
dalam teh bisa mengganggu penyerapan protein dan zat besi. Pasalnya, asam
tannin dan polifenol akan mengikat kedua zat gizi ini di dalam usus. Akibatnya
tubuh tidak akan bisa menyerap dan mengurai zat-zat ini. Padahal, Anda
membutuhkan protein dan zat besi untuk menjalankan berbagai fungsi tubuh.
Kegunaannya antara lain adalah membentuk jaringan dan sel-sel tubuh,
meningkatkan daya tahan tubuh, menyediakan sumber energi, serta menghasilkan
darah yang kaya oksigen.
Disebutkan
juga dalam jurnal Critical Reviews in Food Science and Nutrition. Dalam studi
tersebut, terbukti bahwa jika Anda mengonsumsi teh sambil makan atau habis
makan, kandungan tannin dan polifenol dalam teh Anda pun akan langsung mengikat
protein dan zat besi sebelum sempat diserap oleh tubuh. Akibatnya, gizi yang
Anda dapatkan dari makanan Anda pun jadi sia-sia. Maka, orang yang kekurangan zat besi atau menderita anemia sebaiknya menghindari minum teh baik habis makan atau
sambil makan.
Kebanyakan
masyarakat Indonesia akan memilih untuk minum es teh setelah makan. Biasanya,
minuman ini menjadi pilihan utama saat kita makan di restoran atau tempat makan
lainnya. Jika biasanya kita hanya mendengar kabar yang menyebutkan bahwa minum
teh setelah makan bisa menyebabkan gangguan pencernaan, pakar kesehatan juga
menyebutkan bahwa sering melakukannya bisa menyebabkan datangnya penyakit,
tepatnya anemia.
Lalu,
kapan waktu yang baik saat mengonsumsi teh?
Bila
Anda tidak dianjurkan untuk minum teh habis makan, kapan sebaiknya waktu
terbaik untuk minum teh?
Kalau
setelah makan kalian memang ingin minum teh, beri jeda kira-kira setengah jam
sampai satu jam. Pilih jenis teh yaitu teh hijau. Pasalnya, teh hijau bisa
membantu melancarkan pencernaan dan tidak terlalu berdampak pada penyerapan zat
besi dan protein layaknya teh hitam. Pastikan juga bahwa kalian tidak minum teh
terlalu banyak setelah makan. Batasi sampai satu cangkir saja.
Idealnya,
teh diminum kira-kira satu jam sebelum makan. Anda juga bisa minum teh di
sela-sela waktu makan. Pada saat ini, pencernaan Anda sudah selesai menyerap
berbagai gizi yang diterima oleh tubuh waktu Anda makan. Kandungan teh yang
bermanfaat juga jadi lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.
Kalian juga sebaiknya menghindari minum teh sebelum
tidur. Di malam hari, sistem pencernaan kalian sudah tidak bekerja sebaik di
siang hari. Maka, tubuh akan lebih sulit untuk mengurai gula dan berbagai
nutrisi penting dalam teh Anda. Teh juga mengandung kafein yang bisa membuat
Anda terjaga dan sulit tidur.
Jika ya, hentikan kebiasaan
minum teh-baik dingin maupun panas--setelah makan besar. Daripada minum teh,
lebih baik air putih saja.
by: Yuniar Kartika Dwi Bagtya
Komentar
Posting Komentar